SEJARAH PAHIT BANGSA BATAK

raja-mulia-naipospos
Dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah, kita hanya diberi pelajaran tentang sejarah Tapanuli yaitu perlawanan Sisisngamangaraja melawan penjajah, kemudian perang padri melawaan penjajah, dan lain-lain. namun sebenarnya kita telah dibohongi para ahli dan guru sejarah tentang kehidupan orang Tapanuli sebelumnya seolah-olah terjadi kedamaian dan kerukunan diantara kita yang sebangsa dan setanah air. Sebelum pasukan Sisingamangaraja dan Pasukan Padri melakukan perlawanan terhadap kaum penjajah, jauh sebelumnya telah terjadi sesuatu kejadian yang sangat menyedihkan yang dialami Masyarakat Tapanuli akibat perlakuan pasukan padri yang sangat bengis dan dan kejam dan sama sekali tidak beradab, dan hal ini perlu dipertanyakan bagi ahli dan guru sejarah Indonesia.

ketika Haji Pinobang ingin melakukan ekspansi dan ingin mengislamkan daerah Tapanuli, mereka datang dengan pasukan yang kuat dan bengis yang berjunlah besar sekitar lima belas ribu orang pasukan yang dipinpin Tuanku Rao antara tahu 1816-1818 dan menyerbu Tapanuli Selatan (Mandailing, Sidempuabn dan Padang Lawas)dan mengislamkan mereka. Beberapa tahun kemudian setelah kejatuhan Tapanuli Selatan, mereka kemudian melakukan Ekspansi ke wilayah utara Tapanuli dengan sasaran Pahae, Silindung, humbang dan Toba. dalam penyerbuan ke Toba mereka membakar rumah-rumah, menawan dan membunuh penduduk yang tidak mau tunduk dan menjadi islam tanpa mempedulikan mereka wanita, anak-anak ataupun orang tua yang sudah tidak berdaya. bahkan kekejaman yang tiada taranya itu terjadi juga didaerah Humbang, Silinding dan Pahae.

Penduduk yang tidak mau tunduk kepada tentara Padri dan tidak mau menjadi Islam, matanya dicongkel. Selama penyerangan tersebut ribuan masyarakat yang tidak berdosa yang tidak tau apa-apa dan tanpa persiapan untuk perang yang datang tiba-tiba dari pasukan padri akhirnya mati dan mayatnya bergelimpangan dimana-mana dan tidak dikuburkan dengan baik banyaknya dan juga katakutan yang mendalam dihati masyarakat Tapanuli untuk keluar dari rumah. dimana-mana terlihat bangkai membusuk sehingga menyebabkan timbulnya penyakit kolera dan tifus yang mengganas. Epidemi menjangkit secara tiba-tiba, tidak hanya menyerang masyarakat Tapanuli tetapi juga pasukan Padri, sehingga dari lima belas ribu pasukan padri yang datang hanya tinggal sekitar tiga ribu yang kembali ke daeraah minangkabau dengan selamat ketika Haji Pinabang memutuskan untuk menghentikan Ekspansi dan pengislaman tanah Tapanuli sebelum seluruh pasukannya mati akibat epidemi tersebut.

Sangat sulit membayangkan betapa bengis dan kejamnyapasukan Padri terhadap Masyarakat Tapanuli yang tidak berdosa, sehingga sampai saat ini, jika masyarakat Tapanuli ingin menggambarkan Sesuatau yang kejam dan bengis serta tidak beradab mereka sering mengatakan “songon tingki ni pidori”- seperti masa padri.

Meskipun Pasukan Padri telah meninggalkan daerah Tapanuli, masyarakat senantiasa selalu was-was karena hal itu telah membuat masyarakat Tapanuli mengalami trauma berat. Hal itu merupakan masa paling pahit yang pernah dialami masyarakat Tapanuli lebih pahit dari penjajaha kolonial Belanda dan jiga lebih kejam dari tindakan kolonial Jepang.

1 Tanggapan sejauh ini »

  1. 1

    nathan andrew berkata,

    sedih bangat tuh bro….gue hampir nangis…..
    begitu tragisnya mereka sam nenek moyang kita..


RSS Komentar · URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.